Selasa, 26 Februari 2013


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
PKI merupakan partai komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet. Anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.
Pada bulan Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden - sekali lagi dengan dukungan penuh dari PKI. Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting. Sukarno menjalankan sistem "Demokrasi Terpimpin". PKI menyambut "Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan Komunis yang dinamakan NASAKOM.
Pada era "Demokrasi Terpimpin", kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, foreign reserves menurun, inflasi terus meningkat.










BAB II
PEMBAHASAN
1.      Sebab – Sebab Munculnya G30S/PKI 1965
Sejak D.N. Aidit terpilih menjadi ketua PKI 1951, ia dengan cepat membangun kembali PKI yang porak – poranda akibat kegagalan pemberontakan tahun 1948. Usaha yang dilakukan D.N. Aidit berhasil dengan baik sehingga dalam pemilihan umum tahun 1955, PKI berhasil meraih dukungan rakyat dan menempatkan diri mejadi satu dari empat partai besar di Indonesia, disamping PNI, Masyumi, dan NU.
PKI berkeinginan merebut kekuasaan melalui parlemen pada masa demokrasi terpimpin. Untuk itu dibentuk biro khusus yang secara rahasia bertugas mempersiapkan kader – kader diberbagai organisasi politik, termasuk ditubuh ABRI. PKI juga berusaha mempengaruhi presiden soekarno untuk menyingkirkan dan melenyapkan lawan – lawan politiknya. Dan ini tampak dengan dibubarkannya partai Masyumi, PSI, dan partai Murba oleh presiden. PKI merupakan partai terbesar di Indonesia
Dengan melakukan pendekatan kepada kaum berjunis, PKI berhasil menarik anggota cukup besar, tercatat pada tahun 1965, anggota PKI sudah mencapai 3,5 juta. Hal ini membuat PKI menjadi partai yang besar dan kuat.
PKI melakukan beberapa cara untuk mengembangkan diri, antara lain :
  • Melakukan gerakan gerilia dipedesaan dan melakuan prapaganda-prapaganda menyesatkan.
  • Melakukan gerakan revosioner oleh kaum buruh di perkotaan.
  • Membentukan pekerja intensif dikalangan ABRI.
  • Menyusup ke berbagai organisasi lain untuk mentransparansikan organisasi PKI.
  • Mendekati Presiden Soekarno.

2.      Tujuan
Tujuan pemberontakan itu adalah meruntuhkan negara indonesia dan menggantinya dengan negara komunis. Sebelum melancarkan Gerakan 30 September, PKI mempergunakan berbagai cara seperti mengadu domba antara aparat Pemerintah, ABRI dan ORPOL, serta memfitnah mereka yang dianggap lawan-lawannya serta menyebarkan berbagai isyu yang tidak benar seperti KABIR, setan desa dan lain-lain. Semua tindakan tersebut sesuai dengan prinsip PKI yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya yaitu mengkomuniskan Indonesia dan mengganti Pancasila dengan ideologi mereka. Bahkan menjelang saat-saat meletusnya pemberontakan G 30 S /PKI, maka PKI di tahun 1965 melontarkan isyu bahwa Angkatan Darat akan mengadakan kup terhadap Pemerintah RI dan di dalam TNI AD terdapat“Dewan Jenderal”.
Jelaslah isyu-isyu tersebut merupakan kebohongan dan fitnah PKI, yang terbukti bahwa PKI sendiri yang ternyata melakukan kup dan mengadakan pemberontakan terhadap Pemerintah RI yang syah dengan mengadakan pembunuhan terhadap Pejabat Teras TNI AD yang setia kepada Pancasila dan Negara. Di samping itu, PKI memantapkan situasi “revolusioner” dikalangan anggota-anggotanya dan massa rakyat. Semua ini dimungkinkan karena PKI mendompleng dan berhasil mempengaruhi presiden Sukarno, dengan berbagai aspek politiknya seperti MANIPOL, USDEK, NASAKOM dan lain-lain. Semua kegiatan ini pada hakekatnya merupakan persiapan PKI untuk merebut kekuasaan negara dan sesuai dengan cita-cita atau ideologi mereka yang akan membentuk pemerintah komunis sebagai alat untuk mewujudkan masyarakat komunis.
3.      Sakitnya Bung Karno
Sejak tahun 1964 sampai menjelang meletusnya G30S telah beredar isu sakit parahnya Bung Karno. Hal ini meningkatkan kasak-kusuk dan isu perebutan kekuasaan apabila Bung Karno meninggal dunia. Namun menurut Subandrio, Aidit tahu persis bahwa Bung Karno hanya sakit ringan saja, jadi hal ini bukan merupakan alasan PKI melakukan tindakan tersebut. Tahunya Aidit akan jenis sakitnya Sukarno membuktikan bahwa hal tersebut sengaja dihembuskan PKI untuk memicu ketidakpastian di masyarakat. D.N. Aidit langsung mengambil keputusan untuk memulai gerakan. Rencana gerakan diserahkan kepada Kamaruzaman (alias syam) yang diangkat sebagai ketua Biro Khusus PKI. Biro khusus itu menghubungi kadernya dikalangan ABRI, seperti Brigjen Supardjo, Letnan Kolonel Untung dari Cakrabirawa, Kolonel Sunardi dari TNI-AL, sebagai pemimpin dari gerakan 30 september 1965.
4.      Peristiwa
Letnan Kolonel Untung mengambil suatu keputusan dan memerintahkan kepada seluruh anggota gerakan untuk siap dan mulai bergerak pada dini hari 1 Oktober 1965. Pada dinihari itu, mereka melakukan serangkaian penculikan dan pembunuhan terhadap enam perwira tinggi dan seorang perwira pertama angkatan darat. Para perwira angkatan darat disiksa dan selanjutnya dibunuh. Mereka dibawa kelubang buaya, yaitu sebuah tempat yang terletak sebelah selatan pangkalan udara utama halim perdana kusuma. Selanjutnya para korban itu dimasukkan kedalam sebuah sumur tua, kemudian ditimbun dengan sampah dan tanah.
Ketujuh korban dari TNI-AD adalah sebagai berikut :
1)   Letnan Jenderal Ahmad Yani (Mentri / Panglima AD atau Menpangad)
2)   Mayor Jenderal R.Soeprapto (Deputi II Pangad)
3)   Mayor Jenderal Haryono Mas Tirtodarmo (Deputi III Pangad)
4)   Mayor Jenderal Suwondo Parman (Asisten I Pangad)
5)   Brigadir Jenderal Donald Izacus Panjaitan (Asisten IV Pangad)
6)   Brigadir Jenderal Soetojo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur)
7)   Letnan Satu Pierre Andreas Tendean (Ajudan Jenderal A.H. Nasution)
Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan beliau, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.
Selain itu beberapa orang lainnya juga turut menjadi korban:
Pengangkatan Jenazah di Lubang Buaya

Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Mayat mereka ditemukan pada 3 Oktober.
5.      Pasca kejadian
Pemakaman para pahlawan revolusi. Tampak Mayjen Soeharto di sebelah kanan
Pasca pembunuhan beberapa perwira TNI AD, PKI mampu menguasai dua sarana komunikasi vital, yaitu studio RRI di Jalan Merdeka Barat dan Kantor Telekomunikasi yang terletak di Jalan Merdeka Selatan. Melalui RRI, PKI menyiarkan pengumuman tentang Gerakan 30 September yang ditujukan kepada para perwira tinggi anggota “Dewan Jenderal” yang akan mengadakan kudeta terhadap pemerintah. Diumumkan pula terbentuknya “Dewan Revolusi” yang diketuai oleh Letkol Untung Sutopo.
Di Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta, PKI melakukan pembunuhan terhadap Kolonel Katamso (Komandan Korem 072/Yogyakarta) dan Letnan Kolonel Sugiyono (Kepala Staf Korem 072/Yogyakarta). Mereka diculik PKI pada sore hari 1 Oktober 1965. Kedua perwira ini dibunuh karena secara tegas menolak berhubungan dengan Dewan Revolusi. Pada tanggal 1 Oktober 1965 Sukarno dan sekretaris jendral PKI Aidit menanggapi pembentukan Dewan Revolusioner oleh para "pemberontak" dengan berpindah ke Pangkalan Angkatan Udara Halim di Jakarta untuk mencari perlindungan.
Pada tanggal 6 Oktober Sukarno mengimbau rakyat untuk menciptakan "persatuan nasional", yaitu persatuan antara angkatan bersenjata dan para korbannya, dan penghentian kekerasan. Biro Politik dari Komite Sentral PKI segera menganjurkan semua anggota dan organisasi-organisasi massa untuk mendukung "pemimpin revolusi Indonesia" dan tidak melawan angkatan bersenjata. Pernyataan ini dicetak ulang di koran CPA bernama "Tribune".
Pada tanggal 12 Oktober 1965, pemimpin-pemimpin Uni-Sovyet Brezhnev, Mikoyan dan Kosygin mengirim pesan khusus untuk Sukarno: "Kita dan rekan-rekan kita bergembira untuk mendengar bahwa kesehatan anda telah membaik. Kita mendengar dengan penuh minat tentang pidato anda di radio kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap tenang dan menghindari kekacauan. Imbauan ini akan dimengerti secara mendalam."
6.      Akhir G30S/PKI
Operasi penumpasan G30S/PKI 1965 yang dilancarkan pada tanggal 1 Oktober 1965 diusulkan sedapat mungkin tidak menimbulkan bentrokan senjata. Langkah yang pertama kali dilakukan adalah menetralisasi pasukan yang berada disekitar medan merdeka yang dimanfaatkan / dipergunakan oleh kaum G30S/PKI. Pasukan tersebut berasal dari anggota pasukan bataliyon 503/Brawijaya dan anggota pasukan batalion 545/diponegoro. Anggota pasukan batalion 503/Brawijaya berhasil disadarkan dari keterlibatan G30S/PKI tersebut dan kemudian mereka ditarik kemarkas kostrad dimedan merdeka timur. Sedangkan anggota pasukan batalion 545/Diponegoro berhasil ditarik mundur sekitar pukul 17.00 WIB oleh pihak G30S/PKI kelapangan halim perdana kusuma.
Operasi militer tentang penumpasan G30S/PKI dilakukan sore hari, tanggal 1 Oktober 1965 pukul 19.15 WIB. Pasukan RPKAD berhasil menduduki kembali gedung RRI pusat, Gedung Telekomunikasi dan mengamankan seluruh wilayah medan merdeka tanpa terjadi bentrokan bersenjata atau pertumpahan darah
                                                        BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
30 September malam 1965, PKI telah siap melakukan pemberontakan dengan pangkalan di Lubang Buaya, termasuk daerah pangkalan Halim Perdana Kusumah. Gerakan tersebut dipelopori oleh pasukan Pasopati di bawah pimpinan Lettu Dul Arief dan pasukan yang memakai seragam Resimen Cakrabirawa Pengawal Istana, yang dipimpin oleh Letkol Untung Sutopo. Mereka bergerak hari Jumat, 1 Oktober 1965, pukul 03.00 dini hari memasuki Ibukota dengan sasaran : (a) menculik dan membunuh beberapa perwira tinggi TNI-AD, dan (b) menduduki tempat vital, seperti studio Radio Republik Indonesia, pusat telekomunikasi, dan Istana Merdeka.
Sasaran yang menjadi korban adalah Letnan Jendral Ahmad Yani (Menteri/Panglima AD), Mayor Jendral haryono (Deputy Khusus) dibunuh di rumah kediaman kemudian dibawa ke Lubang Buaya. Lettu Piere Andreas Tendean (Ajudan menko Hankam KASAB Jenderal A.H. Nasution), Mayor Jenderal Suprapto (Deputy Pembinaan), Mayor Jenderal S. Parman (Asisten I), brigjen D.I. Panjaitan ( Asisten IV), Brigjen Sutoyo Siswomiharjo ( Inspektur Kehakiman), diculik dan dibawa ke Lubang Buaya, disiksa dan dibunuh, dimasukkan sumur kering. Peristiwa  sadis tersebut selesai pukul 06.30 pagi. Dalam usaha penculikan itu Jenderal Nasution dapat menyelamatkan diri, tetapi Ade Irma Suryani, puterinya yang masih kecil, menjadi korban membentengi ayahnya.
Dalam penyiksaan di Lubang Buaya tersebut, disaksikan oleh Sukitman  (seorang anggota Poltas) yang lepas dari tawanan pemberontak. Selanjutnya Sukitman berjasa sebagai informan dalam pencarian para korban oleh pasukan yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto.
Tanggal 2 Oktober 1965 , saat menjelang subuh, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), dibantu Batayon 328 Kujang Siliwangi, berhasil merebut Pangkalan Halim Perdana Kusumah, basis G30S/PKI. Letkol Untung Sutopo dan Dipo Nusantara Aidit (Pimpinan Sentral Komite Partai Komunis Indonesia atau CCPKI) berhasil lolos dan melarikan diri.
Tanggal 4 Oktober 1965, dilakukan pengambilan jenazah para perwira Tinggi AD oleh anggota RPKAD dan KKO AL, dipimpin oleh Pangkostrad Mayor Jenderal Soeharto.


TUGAS SEJARAH
SEBAB-SEBAB MUNCULNYA GERAKAN G 30 S/PKI
SERTA PERISTIWA GERAKAN G 30 S/PKI

Kelompok I
Nama anggota;
                                                   1.Ahadmi suryanti
                                                   2.Ahadul putra
                                                   3.Firman wahyudi
                                                   4.Wiwi susanti

KELAS XI IPA 1
Guru pembimbing: Maimunah.Spd

MADRASAH ALIYAH NEGERI ( MAN )
KOTA SOLOK
Tahun Pelajaran 2012-2013
















Tidak ada komentar:

Silahkan Komentar